Pengambilan Keputusan Dengan Pilihan Yang Sulit

Otak.co – Sulit mengambil keputusan adalah kenyataan yang pasti dialami oleh semua orang. Pengambilan keputusan yang membingungkan biasanya terkait dengan suatu keputusan yang besar dan keputusan tersebut adalah hal yang penting bagi kita dan masa depan kita.

Penelitian yang dilakukan oleh psycho-economist Sheena S. Iyengar dari Columbia Business School terhadap 2000 orang amerika menyimpulkan bahwa, pada hari-hari bisa, secara rata-rata setiap orang dihadapkan pada 70 proses pengambilan keputusan setiap hari. Dalam penelitian lain yang dilakukan terhadap para CEO, dimana rata-rata CEO tersebut melakukan 139 tugas per minggu, didapati bahwa 50% dari pengambilan keputusan atas tugas tersebut dilakukan dalam sembilan menit atau kurang. Hanya 12% dari keputusan yang mereka ambil membutuhkan waktu satu jam atau lebih.

orang yang sulit mengambil keputusan

sumber: pexels.com

Ketika dihadapkan pada pengambilan keputusan yang tidak mudah, terkadang kita membutuhkan waktu berhari-hari untuk memutuskan. Pilihan yang sulit tidak selalu menyangkut hal yang besar. Misalnya pilihan antara kesehatan dan kelezatan. Apakah hari ini Anda akan sarapan bubur atau memilih donat coklat. Bubur lebih baik tapi donat lebih enak, satu pilihan tidak lebih baik dari pilihan yang lain.

Kita tidak terlalu ambil pusing tentang pengambilan keputusan ketika menyangkut hal yang kecil. Mungkin dengan prinsip yang sama, seharusnya Anda juga tidak terbebani dengan keputusan untuk hal yang besar seperti memilih jurusan kuliah. Adakalanya sulit mengambil keputusan dikarenakan kita menggangap diri sendiri bodoh.

Solusi yang biasanya dilakukan ketika harus memutuskan diantara dua atau beberapa pilihan adalah dengan menuliskan manfaat dan dampak dari setiap alternatif. Tapi dengan daftar lengkap informasi dampak dan manfaatnya pun hal tersebut belum tentu bisa menyimpulkan mana alternatif yang terbaik. Keputusan yang sulit bukan karena ketidaktahuan kita, tapi karena memang tidak ada pilihan terbaik. Dan ketika ini yang terjadi, kita cenderung memilih pilihan yang paling aman.

Ketika dua pilihan mempunyai bobot yang seimbang, maka pengambilan keputusan seharusnya bisa dengan mudah ditentukan dengan menggunakan koin. Tapi apakah cara tersebut adalah cara yang benar?

Terkadang pengambilan keputusan yang sulit tidak selalu diakibatkan karena pilihan yang sama baiknya. Misalnya Anda sedang mempertimbangkan untuk bekerja sebagai pegawai bank atau sebagai seorang desain grafis. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dan seandainya dalam situasi yang membingungkan ini, situasinya divariasikan dengan penambahan gaji sebesar 3 juta untuk profesi pegawai bank. Apakah penambahan gaji tersebut menjadikan jalur karier sebagai pegawai bank menjadi pilihan yang terbaik? Belum tentu. Gaji yang lebih tinggi menjadikan profesi pegawai bank adalah pilihan yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi menjadi seorang bankir belum tentu lebih baik dibandingkan menjadi seorang seniman.

Jika dengan adanya peningkatan tidak menjadikan suatu pilihan pekerjaan menjadi lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan yang lainnya, maka pada situasi awal (sebelum penambahan gaji 3 juta) kedua pilihan tersebut sebenarnya bukan pilihan-pilihan yang seimbang. Asumsi matematika ini tidak bisa diterapkan pada pilihan yang sulit.

Jadi sekarang kita punya permasalahan yang pelik. Ada dua pekerjaan dimana salah satu tidak lebih baik dari yang lain, tapi dua-duanya juga tidak sama baiknya. Jadi mana yang seharusnya kita pilih?

Permasalahan tersebut timbul mungkin disebabkan oleh cara berpikir kita yang ilmiah. Kita menganggap value (nilai) sama dengan angka. Value seperti keindahan, kebaikan, keadilan, dan lain-lain sama dengan angka seperti panjang, lebar, berat, dan lain-lain.

Jika kita membandingkan berat sebuah benda, maka kita dengan mudah menghasilkan tiga asumsi. Benda tersebut lebih berat, lebih ringan atau sama beratnya dengan yang lain. Kita dapat dengan mudah membuat keputusan karena setiap benda mempunyai angka (0, 1, 2, 3, …) sebagai patokan. Hal ini tidak bisa diterapkan untuk yang bersifat nilai atau value. Jadi apa yang harus kita lakukan?

Jika apa yang kita anggap penting adalah hal-hal yang bersifat nilai (value) dimana tidak bisa diwakili oleh angka riil, maka prinsip tiga asumsi diatas (lebih baik, lebih buruk, sama dengan lainnya) tidak bisa digunakan.

Pendekatan yang mungkin bisa dicoba untuk menghasilkan sebuah keputusan memilih diantara pilihan yang sulit adalah dengan mengenyampingkan alasan. Karena sebuah keputusan yang dihasilkan dari prinsip tiga asumsi tersebut didasarkan pada alasan. Rasionalitas kita memilih untuk melakukan yang lebih baik. Rasionalitas selalu memiliki alasan dibalik pilihan yang kita pilih.

Dengan mengenyampingkan alasan, kita melakukan hal yang luar biasa. Kita mengenyampingkan hal-hal yang mendikte kita. “SESUATU” dalam diri kita yang bertugas menentukan apakah kita berbuat kesalahan atau tidak menjadi diam.

Tempatkan diri kita dibelakang salah satu pilihan. Disitu kita berdiri. Disitulah sebenar-benarnya diri kita. Saya adalah Bankir. Saya adalah donat coklat. Ini adalah keputusan rasional yang tidak didikte oleh alasan. Alasan akan menjauhkan kita menjadi manusia yang sepenuh hati.

Jadi ketika diharuskan untuk mengambil keputusan dengan option yang sulit, jangan mencari alternatif terbaik. Dari pada mencari alasan dari luar, lebih baik mencari alasan dari dalam diri: Kita akan menjadi siapa?

Dengan demikian kita akan menjadi “manusia terbang”. Saya “terbang” untuk menjadi Bankir. Menjadi “manusia terbang” membebaskan dunia untuk menuliskan kisah hidup untuk kita.

Proses pengambilan keputusan yang baik lewat pilihan yang sulit adalah kesempatan yang baik untuk lahir kembali menjadi manusia yang seutuhnya. Benar dan salah menempati ruang yang sempit dari luasnya sebuah “dunia keputusan yang sulit”. Pilihan yang sulit bukanlah kutukan tapi sebuah karunia.