Asal Usul Uber (Taksi)

Otak.co – Uber adalah perusahaan transportasi berbasis aplikasi dengan tingkat pertumbuhan yang fenomenal mengalahkan prestasi facebook. Asal usul perusahaan taksi Uber diawali pada bulan maret tahun 2009. Sedangkan di Indonesia sendiri, Uber diluncurkan pada bulan agustus tahun 2014 silam.

gambar asal usul uber di Indonesia agustus 2014

sumber: lensablog.wordpress.com

Perusahaan ride sharing yang bermarkas di San Francisco, California ini didirikan oleh Garett Camp dan Travis Kalanick. Kedua pribadi ini bisa dikatakan bukan pemain baru dalam industri internet. Garett Camp adalah pendiri StumbleUpon (social media) sedangkan Travis Kalanick adalah pendiri Red Swoosh (peer-to-peer file sharing).

Sejarah awal mula ide pendirian Uber Taxi berakar dari kisah Garett Camp dan Travis Kalanick yang kesulitan untuk mendapatkan taksi saat akan menghadiri sebuah konferensi saat musim dingin (salju) tahun 2008 di kota Paris. Situasi tersebut memunculkan gagasan untuk membuat aplikasi yang memudahkan orang mendapatkan taksi semudah menekan tombol di smartphone. Inilah cikal bakal, asal usul pendirian Uber.

grafik pertumbuhan uber dan facebook

sumber: www.wsj.com

Awalnya aplikasi ini hanya ditujukan untuk kelas taksi premium (UberCab.com), saat ini wajah Uber bertransformasi sebagai perusahaan transportasi dan logistik. Bukan saja manusia, apapun itu dan kapanpun waktunya, semua bisa diantar ke tujuan. Seperti yang dikutip dari website resmi Uber: “Whether it’s a ride, a sandwich, or a package, we use technology to give people what they want, when they want it.

Sejalan dengan pernyataan diatas, dari prakarsa awal memudahkan orang untuk mencari taksi saat musim salju, kini Uber memiliki buah pikiran yang lebih luas. Seperti yang diungkapkan oleh Travis Kalanick pada acara TED Talk, dengan adanya Uber diharapkan bisa mengatasi masalah kemacetan, mengurangi polusi dan meningkatkan produktifitas yang hilang akibat terjebak macet. Selain itu dengan memanfaatkan ride sharing juga akan mengurangi lahan tidak produktif yang digunakan untuk memarkir kendaraan yang jarang digunakan.

Sejarah Pendanaan Uber Taxi

Bisa beroperasi secara global di 66 negara dan 507 kota dunia (data agustus 2016) dengan total karyawan berjumlah 6.700 orang, tentu saja memerlukan dana yang cukup besar. Berikut riwayat investasi yang berhasil diperoleh Uber guna mengekspansi perusahaannya:

TanggalJumlah / RoundInvestor UtamaJumlah Investor
Agt, 2016undisclosed amount / Series G1
Jul, 2016$1.15B / Debt FinancingMorgan Stanley4
Jun, 2016$3.5 Miliar / Private EquitySaudi Arabia’s Public Investment Fund1
Feb, 2016$200 Juta / Private EquityLetterone Holdings SA1
Agt, 2015$100 Juta / Private EquityTata Capital1
Jul, 2015$1 Miliar / Series F5
Feb, 2015$1 Miliar / Series EGlade Brook Capital Partners9
Jan, 2015$1.6 Miliar / Debt FinancingGoldman Sachs1
Des, 2014$1.2 Miliar / Series EGlade Brook Capital Partners8
Jun, 2014$1.4 Miliar / Series DFidelity Investments9
Agt, 2013$258 Juta / Series CGV3
Des, 2011$37 Juta / Series BMenlo Ventures12
Feb, 2011$11 Juta / Series ABenchmark6
Okt, 2010$1.25 Juta / AngelFirst Round29
Agt, 2009$200k / SeedGarrett Camp2
Travis Kalanick

sumber: crunchbase.com. #Round adalah istilah untuk sesi pendanaan/penanaman investasi bagi perusahaan startup yang dananya berasal dari perusahaan modal ventura dan atau investor institusi lainnya.

Kondisi Uber Saat Ini

Saat ini, dari data keuangan juni 2016, valuasi/nilai perusahaan Uber sekitar $ 66 Billion atau kurang lebih 860 triliun rupiah. Sayangnya, seperti layaknya perusahaan startup Silicon Valley, Uber terperangkap jargon “grow first, make money later.

Dengan cepatnya pertumbuhan yang mencapai 40% disetiap kuartal ditahun 2015, pada tahun 2016 ini Uber menderita kerugian 520 juta dolar AS pada kuartal pertama dan kembali rugi 750 juta dolar AS pada kuartal kedua 2016. Tercatat total kerugian Uber selama 7 tahun operasional  setidaknya berjumlah 4 miliar USD.

Bloomberg melaporkan bahwa penyebab utama kerugian perusahaan adalah subsidi bagi supir/driver. Kerugian yang dialami Uber adalah hal yang yang tidak mengejutkan dan inipun tidak hanya dialami oleh Uber. Sudah menjadi pola bagi riwayat layanan transportasi berbasis aplikasi untuk menderita kerugian terlebih dahulu dengan tujuan bisa menarik mitra dan user sebanyak mungkin untuk mempercepat pertumbuhan usaha.

Tantangan bagi Uber kedepan adalah mengubah kerugian menjadi keuntungan. Senada dengan pernyataan Robert Siegel dosen management di Stanford’s business school, “Pertanyaannya adalah kapan Uber akan mendapatkan keuntungan.”

Logikanya jika ada yang rugi pasti ada yang untung. Walaupun masih mengalami kerugian, setidaknya ratusan ribu supir taksi Uber diseluruh dunia sudah merasakan keuntungannya. Ini bisa jadi salah satu bentuk pendistribusian kekayaan secara global efek dari kerugian yang dialami oleh Uber.