Kata-kata Bijak Kehidupan Albert Einstein

Otak.co | Kata Bijak Kehidupan Albert Einstein – “Apa arti kehidupan?”, mungkin ini adalah salah satu pertanyaan abadi seumur dengan keberadaan manusia itu sendiri. Tergantung dari kebijakan yang menjawab, arti dari makna kehidupan pastinya berbeda tergantung dari nilai-nilai hidup yang dianutnya. Dan jika sudah berkaitan dengan wisdom, maka apa yang akan kita peroleh adalah sebuah kalimat mutiara yang mengandung makna ratusan kata.

Pada artikel kata bijak kali ini, akan dibahas mengenai kata mutiara bijak kehidupan yang dicetuskan oleh Albert Einstein. Kami mencoba merangkum setiap kutipan Einstein yang mengandung kata kehidupan sekaligus mengartikan perkataan Albert Einstein dalam bahasa Inggris tersebut menjadi kata-kata bahasa Indonesia agar mudah untuk dimengerti.

Berikut ini beberapa kata bijak Albert Einstein tentang kehidupan, semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi dalam hidup atau mungkin ada sesuatu yang bisa kita petik yang bermanfaat dan berguna bagi kehidupan kita.

gambar albert einstein

sumber: factslegend.org

All religions, arts and sciences are branches of the same tree. All these aspirations are directed toward ennobling man’s life, lifting it from the sphere of mere physical existence and leading the individual towards freedom.

Agama, seni dan ilmu adalah cabang-cabang dari pohon yang sama. Semua aspirasi tersebut diarahkan memuliakan kehidupan manusia, mengangkatnya dari lingkup keberadaan fisik belaka dan mengarahkan individu menuju kebebasan.

Sumber: ‘Moral Decay’, Out of My Later Years (1937, 1995), 9.


Anyone who thinks science is trying to make human life easier or more pleasant is utterly mistaken.

Siapa pun yang berpikir sains mencoba untuk membuat kehidupan manusia lebih mudah atau lebih menyenangkan, sama sekali keliru.

Sumber: ‘Quotation Marks’, New York Times (11 Oct 1931).


Curiosity has its own reason for existing. One cannot help but be in awe when he contemplates the mysteries of eternity, of life, of the marvelous structure of reality.

Keingintahuan ada karena suatu alasan. Manusia tidak bisa tidak kagum ketika ia merenungkan misteri tentang keabadian, misteri tentang kehidupan, misteri tentang realita yang mengagumkan.

Sumber: Life magazine (2 May 1955). Einstein: His Life and Universe (2008), 548.


For the rest of my life I will reflect on what light is.

Selama sisa kehidupan saya, saya akan merenungkan apa itu cahaya.

Sumber: Empire of Light (1999), 69.


I agree with Schopenhauer that one of the most powerful motives that attracts people to science and art is the longing to escape from everyday life.

Saya setuju dengan Schopenhauer bahwa salah satu motif paling kuat yang mendorong orang untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan seni adalah kerinduan melarikan diri dari kehidupan sehari-hari.

Sumber: Bulletin of the Atomic Scientists (Feb 1959), 85.


I do not believe that a moral philosophy can ever be founded on a scientific basis. … The valuation of life and all its nobler expressions can only come out of the soul’s yearning toward its own destiny. Every attempt to reduce ethics to scientific formulas must fail. Of that I am perfectly convinced.

Saya tidak percaya bahwa filosofi moral dapat berdiri diatas basis ilmiah. … Perhitungan hidup dan semua ekspresi yang lebih mulia hanya bisa keluar dari kerinduan jiwa terhadap nasibnya sendiri. Setiap upaya untuk mengurangi etika dalam suatu formulasi ilmiah harus gagal. Saya sangat yakin dengan hal tersebut.

Sumber: ‘Science and God: A Dialogue’, Forum and Century (June 1930), 83, 374.


If A is a success in life, I should say the formula is A = X + Y + Z, X being work and Y being play. … … [Z] is keeping your mouth shut.

Jika A adalah sukses dalam hidup, saya harus mengatakan bahwa formulanya adalah A = X + Y + Z , dimana X adalah bekerja dan Y adalah bermain. … … Z adalah tutup mulut.

Sumber: jawaban atas pertanyaan “the best formula for success in life,” ditanyakan oleh S.J. Woolf dalam sebuah wawancara di kediaman Einstein, dipublikasikan di ‘Einstein’s Own Corner of Space’, New York Times (18 Aug 1929).


Man tries to make for himself in the fashion that suits him best a simplified and intelligible picture of the world; he then tries to some extent to substitute this cosmos of his for the world of experience, and thus to overcome it. This is what the painter, the poet, the speculative philosopher, and the natural scientist do, each in his own fashion. Each makes this cosmos and its construction the pivot of his emotional life, in order to find in this way the peace and security which he cannot find in the narrow whirlpool of personal experience.

Orang dengan caranya masing-masing sebaik mungkin mencoba membuat gambaran tentang dunia secara sederhana dan mudah dimengerti; ia kemudian mencoba sampai batas tertentu menggantikan kosmos(gambaran)nya dengan dunia pengalaman, dan dengan demikian mencoba untuk menaklukannya. Ini adalah hal yang dilakukan oleh pelukis, penyair, filusuf spekulatif, dan ilmuwan, masing-masing dengan caranya sendiri-sendiri. Mereka membuat kosmos dan konstruksinya dengan berporos pada kehidupan emosionalnya, untuk menemukan kedamaian dan keamanan yang tidak dapat ditemukan dalam pusaran sempit pengalaman pribadi.

Sumber: The Physical Society, Berlin (1918) untuk ulang tahun Max Planck’s ke 60, ‘Principles of Research’, collected in Essays in Science (1934, 2004) 3.


My internal and external life depend so much on the work of others that I must make an extreme effort to give as much as I receive.

Kehidupan internal dan eksternal saya sangat tergantung pada pekerjaan orang lain yang dimana saya harus membuat upaya ekstrem untuk memberikan sebanyak apa yang saya terima.

Sumber: Floyd Merrell, Unthinking Thinking: Jorge Luis Borges, Mathematics, and the New Physics, 241.


One should guard against preaching to the young man success in the customary sense as the aim in life. … The most important motive for work in school and in life is pleasure in work, pleasure in its result, and the knowledge of the value of the result to the community.

Orang harus waspada terhadap pemberitaan kesuksesan pemuda dalam arti adat sebagai tujuan dalam hidup. … Motif yang paling penting dalam belajar dan dalam kehidupan adalah kesenangan dalam mengerjakannya, kesenangan dalam hasilnya, dan pengetahuan tentang nilai hasil kerja terhadap masyarakat.

Sumber: ‘On Education’, yang ditujukan untuk State University of New York, Albany (15 Oct 1936) dalam perayaan Tercentenary of Higher Education in America.


One thing I have learned in a long life: that all our science, measured against reality, is primitive and childlike—and yet is the most precious thing we have.

Satu hal yang saya pelajari dalam kehidupan: bahwa semua ilmu kita diukur terhadap realitas, hal yang primitif dan kekanak-kanakan adalah hal yang paling berharga yang kita miliki.

Sumber: Epigraph in Banesh Hoffmann and Helen Dukas, Albert Einstein: Creator and Rebel (1972, 1973), vii.


There is, fortunately, a minority composed of those who recognize early in their lives that the most beautiful and satisfying experiences open to humankind are not derived from the outside, but are bound up with the development of the individual’s own feeling, thinking and acting. The genuine artists, investigators and thinkers have always been persons of this kind. However inconspicuously the life of these individuals runs its course, none the less the fruits of their endeavors are the most valuable contributions which one generation can make to its successors.

Ada, untungnya , minoritas yang terdiri dari orang-orang yang mengakui diawal kehidupan mereka bahwa pengalaman yang paling indah dan memuaskan terbuka untuk umat manusia tidak berasal dari luar, tetapi terikat dengan perkembangan perasaan individu itu sendiri, yaitu berpikir dan bertindak. Para seniman sejati, peneliti dan pemikir selalu menjadi orang semacam ini. Yang menarik perhatian, kehidupan individu-individu tersebut berjalan begitu saja, namun demikian buah dari usaha mereka adalah kontribusi paling berharga yang satu generasi ke generasi penerusnya.

Sumber: dalam sebuah surat tanggal 1 Mei 1935, Letters to the Editor, ‘The Late Emmy Noether: Professor Einstein Writes in Appreciation of a Fellow-Mathematician’, New York Times (4 May 1935), 12.


Why does this magnificent applied science which saves work and makes life easier bring us so little happiness? … The simple answer runs: Because we have not yet learned to make sensible use of it.

Mengapa ilmu terapan yang megah yang menghemat kerja dan membuat hidup lebih mudah mendatangkan begitu sedikit kebahagiaan? … Jawabannya sederhananya: Karena kita belum belajar untuk memanfaatkannya secara masuk akal.

Sumber: ditujukan untuk mahasiswa California Institute of Technology, Pasadena, California (16 Feb 1931). In New York Times (17 Feb 1931), p. 6.